Waspada Obat Palsu

Peredaran obat palsu merupakan masalah serius yang dihadapi oleh Indonesia saat ini. Sepanjang tahun 2013 lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengamankan banyak jenis obat palsu, yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Obat-obat yang banyak dipalsukan antara lain: obat penambah vitalitas atau obat disfungsi ereksi, obat malaria, obat kencing manis, antibiotik, dan obat pereda rasa sakit/nyeri.


Kebanyakan obat palsu merupakan produk obat yang meniru produk asli dari produsen resmi. Obat palsu biasanya tidak mengandung zat aktif yang dikandung obat asli, dan terbuat dari bahan-bahan dengan kualitas di bawah standard. Selain itu, obat palsu tidak terdaftar di Kementerian Kesehatan maupun Badan POM, atau bisa disebut obat ilegal. Kesimpulannya, baik obat palsu maupun ilegal berbahaya bagi kesehatan, karena tidak menyembuhkan penyakit dan bahkan bisa mengancam jiwa.


Membedakan obat palsu dengan obat asli sulit dilakukan hanya dari tampilan fisik, karena pemalsu obat bisa membuat bentuk, warna, dan kemasan obat palsu semirip mungkin dengan obat asli.


Berikut beberapa tips untuk menghindari obat palsu:



  1. Belilah obat, terutama obat keras/obat resep, hanya di tempat-tempat resmi yang berizin, seperti rumah sakit atau apotek.

  2. Perhatikan dua hal pada kemasan obat, yaitu harus tercantum tanggal kadaluarsa, dan nomor registrasi atau nomor izin edar (15 digit) dari Badan POM. Keduanya merupakan bagian dari cara pembuatan obat yang baik. Izin edar merupakan tanda obat sudah terdaftar di Badan POM. Untuk memastikan keaslian nomor izin edar, bisa dilakukan dengan mengakses situs www.pom.go.id.

  3. Perhatikan logo lingkaran pada sisi kanan kemasan obat yang menunjukkan golongan obat. Ada tiga jenis logo yang dibedakan dengan warna, yaitu:



  • Lingkaran berwarna merah dengan huruf "K" yang berarti obat keras. Obat ini hanya dapat ditebus dengan resep dokter, dan hanya dapat diperoleh di rumah sakit atau apotek.

  • Lingkaran berwarna hijau yang berarti obat bebas terbatas. Obat ini dapat dibeli tanpa resep, tapi hanya dapat diperoleh di apotek/toko obat, dan harus dibatasi penggunaannya.

  • Lingkaran berwarna biru yang berarti obat bebas. Obat ini dapat dibeli bebas di toko obat maupun pasar swalayan.



  1. Perhatikanlah kondisi kemasan dan harga obat. Konsumen perlu curiga jika kondisi kemasan ada yang cacat, atau berbeda dengan produk asli. Demikian pula jika harga obat jauh lebih murah daripada harga pada umumnya.

  2. Jika setelah menggunakan obat, Anda mengalami gejala-gejala yang tidak biasanya, atau tidak ada penyembuhan setelah minum obat, sebaiknya segera konsultasikan dengan Dokter atau Apoteker.


Masyarakat juga perlu ikut serta dalam memberantas, atau setidaknya mengurangi peredaran obat palsu, antara lain dengan cara:



  • Membeli obat hanya di tempat-tempat resmi.

  • Jangan membeli obat hanya karena tergiur dengan harganya yang jauh lebih murah, padahal kualitas dan keamanannya tidak terjamin.


Saatnya menjadi konsumen yang cerdas demi kesehatan dan keselamatan bersama.


 


Salam Sehat,


Team Apotek Simas Sehat

  1. Download File :
  2. Waspada Obat Palsu

fb-share-button twt-share-button

Keranjangku
Belum Ada Data
Syarat dan Ketentuan :
  1. Pembelian produk minimal Rp50.000,- berlaku untuk pembayaran dengan menggunakan kartu debet dan kredit.
  2. Untuk pembayaran di tempat, tidak ada batasan minimal pembelian.
  3. Harga yang tercantum dapat berubah sewaktu-waktu.
  4. Produk yang telah dibeli tidak dapat dikembalikan
Layanan Apotek
Kegiatan bersama Apotek
Layanan Pelanggan